Hari ini seperti biasa di sela-sela para santri sedang makan, selesai sholat bahkan sampai saat menunggu dijemput oleh orangtua nya, saya selalu meperhatikan aktifitas para santri dan juga guru. Saat makan saya mendengar ada santri yang menegur teman nya sambil berkata “kamu jangan berbohong!”, lalu saya tanyakan kepada santri tersebut “kenapa kita tidak boleh berbohong nak?” santri tersebut menjawab “nanti berdosa ustadz,” kembali saya tanyakan memangnya kalau berdosa kenapa? “kalau banyak dosa nya nanti masuk neraka” jawab santri yang usianya se level dengan siswa TK B tersebut. Masya Allah wa baarokallahu fiik-nak gumam ku dalam hati sembari membayangkan dahulu apa yang dilakukan diri ini ketika seusia santri tersebut.
Lalu selepas mereka makan dan sambil menunggu dijemput orang tuanya, qodarullah terjadi gempa yang sampai terasa di Tangerang bagian selatan ini. Ada seorang santri yang mengatakan kepada seorang ustadzah nya, ”ustadzah tadi gempa” sambil tertawa atau cengar cengir. Sontak ustadzahnya mengingatkan kepada santri tersebut “ kok kamu tertawa? harusnya perbanyak istighfar nak”.
Ada juga santri selepas gempa tersebut mengatakan kepada teman temannya sambil mengajak keluar gedung karena takut gempa kembali terjadi. Lagi-lagi santri tersebut diingatkan oleh seorang ustadz yang mengatakan ”kok kamu takut gempa nak? Takut lah hanya kepada Allah”.
Inilah yang dilakukan para guru guru selepas KBM, mereka merelakan jam istirahatnya untuk terus bergerak dan berjuang walaupun tidak sedang mengajar formal di dalam kelas, mereka senantiasa membersamai para santri di setiap aktifitas kegiatan sampai mereka pulang. Masya Allah begitu besar nya usaha amal islami para guru dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan serta membentuk kepribadian dan keilmuan para santri.
Pernah saya menanyakan kepada para guru, “kenapa antum mau menjadi seorang guru padahal di luar sana profesi ini jarang sekali diminati kebanyakan orang?” berbagai jawaban tentang kutamaan menjadi seorang pendidik mereka jawab. Tetapi yang menjadi fokus pada tulisan kali ini bukanlah pada rincian keutamaan seorang guru.
Saya ingin mengingatkan khususnya kepada diri pribadi, dan juga kepada para pembaca pada umumnya tentang hadits Imam Muslim meriwayatkan kisah dari Ma’bad bin Ka’b bin Malik, bersumber dari Qatadah bin Rib’iy ra. Bahwa dia pernah bercerita: suatu saat iring-iringan pembawa jenazah melintas di depan Rasulullah. Melihat itu, Rasulullah berkata, “Beristirahat dan diistirahatkan darinya.”
Orang-orang bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang beristirahat dan siapakah yang diistirahatkan dari nya itu?”
“Jenazah hamba yang beriman beristirahat dari penatnya dunia menuju rahmat Allah. Sementara jenazah hamba pendosa diistirahatkan darinya hamba-hamba lainnya, negeri-negeri, pepohonan, serta binatang melata,” jawab Rasulullah.
Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim 7:20 menyatakan, “Makna hadits ini yaitu, orang yang meninggal ada dua kelompok: yang beristirahat dan diistirahatkan darinya. Istirahatnya para hamba dari pendosa, maksudnya adalah terbebasnya mereka dari kejahatan si pendosa itu.
Sementara Khalifah Umar bin Khattab pernah mengatakan, “ Setiap hari ada orang yang berkata, ‘Si fulan dan si fulan telah mati.’ Tetapi suatu saat, akan ada orang yang mengatakan, ‘Umar telah mati.’ Dan suatu waktu kita akan seperti yang dikatakan penyair: Kita mati dan hidup siang malam, suatu hari kita akan mati dan tak akan pernah hidup lagi.”
Imam Ahmad bin Hambal ditanya, “Kapan seorang hamba bisa istirahat? ”Beliau menjawab, ”Saat kakinya menginjak syurga”
Lalu pertanyaannya adalah ketika nanti kita mati, apakah kita beristirahat atau diistirahatkan?
Ya Allah bimbinglah kami
#2kurikulum
#imansebelumquran
#adabsebelumilmu